Searching...

Film

FILM-FILM IWAN FALS


  • Damai Kami Sepanjang Hari (1985)


Damai Kami Sepanjang Hari adalah film Indonesia 1985 yang disutradarai oleh Sophan Sophiaan dan dibintangi antara lain oleh Iwan Fals, Rima Melati dan Ade Irawan.

Sinopsis
Iwan, pelajar SMA, kehilangan ayahnya, sopir bajaj, karena tertabrak jip Dance Lintang, penyanyi tenar. Ibu Iwan harus kerja keras meski dalam keadaan mengandung. Iwan yang selama ini sudah mencari uang dengan mengamen, kini dibantu keempat adiknya yang ikut berjualan koran. Ibunya kemudian juga meninggal saat melahirkan anak terakhir. Iwan bertekad membesarkan adik-adiknya. Niat itu tak bisa kesampaian, karena keadaan keuangannya. Ia harus merelakan adik-adiknya masuk rumah yatim piatu. Ia sempat salah langkah karena hardikan Tia, pacarnya, hingga ingin melarikan adik-adiknya. Akibatnya ia masuk tahanan.

Miftah, wartawan, yang selama ini selalu bersimpati dan tahu bakat Iwan, mengeluarkannya dari tahanan. Iwan memutuskan berhenti sekolah dan akhirnya Miftah berhasil dan membawanya untuk rekaman. Produser rekaman memang sedang kesal menghadapi tingkah Dance. Dance sempat marah mendengar Iwan rekaman, mendatangi produser dan merusak pita rekaman. Keadaan menjadi berbalik, ketika Dance ditangkap polisi karena narkotika. Rekaman Iwan berhasil di pasar. Ia membawa pulang adik-adiknya dari rumah yatim piatu.

http://mbaktini.blogspot.com

Sutradara
Sophan Sophiaan

Produser
Arifin Yacob

Penulis
Sophan Sophiaan

Pemeran
Iwan Fals
Rima Melati
Ade Irawan
Titin Suherman
Nunu Datau
Sandi Taroreh
Bram Adrianto
A. Khalik Noor
Anton Samiat
Boy Tirayoh
Dolly Martin
Etty Sumiati
Piet Pagau
Usbanda
Usman Effendy
Roma Sophiaan
Sophan Sophiaan

Musik

Sinematografi
Nandi

Penyunting
Ch. Darmawan

Distributor
Multi Permai Film

Durasi
101 menit
 
film "Damai Kami Sepanjang Hari" sumber gambar : http://jejakandromeda.wordpress.com/


  • Kantata Takwa (1990)


Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa yang dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat dengan tema sosial politik dan kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represif saat itu, sehingga pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis. Film ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex dan kemudian dalam berbagai festival film internasional.


Latar Belakang
Pembuatan film ini dimulai dari Agustus 1990, dan baru dirilis September 2008 akibat mengalami banyak kesulitan. Film ini dibuat berdasarkan konser akbar proyek musik Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada era Orde Baru tahun 1991, didukung oleh seniman kondang Indonesia W.S. Rendra dan musisi-musisi kawakan dari grup musik "Kantata", yaitu Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi. Konser "Kantata Takwa" yang ditampilkan dalam film ini adalah yang diadakan pada bulan April 1991, yang kemudian dilarang tampil setelah penampilan selanjutnya di Surabaya. Konser ini adalah simbol perlawanan dan oposisi terhadap pemerintah penguasa saat itu, disuarakan dengan lantang dalam konser tersebut melalui syair dan lagu yang sarat dengan nuansa teatrikal.

Saat awal proses pembuatannya, film ini didukung oleh banyak sineas Indonesia, dimana banyak yang diantaranya tergabung dalam Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Banyak yang diantaranya telah meninggal sebelum film ini diselesaikan dan dirilis. Film yang pada awalnya di-shoot dengan kamera 35mm ini tidak dapat dirilis pada era pemerintahan Orde Baru. Setelah diselesaikan dan dirilis tahun 2008, perbedaan dengan versi awalnya hanya dalam format digital mediumnya saja. Rol filmnya harus disimpan selama kurang lebih 18 tahun akibat berbagai kesulitan dalam pembuatannya, termasuk karena Krisis finansial Asia 1997 yang merambat ke gonjang ganjingnya politik di Indonesia dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Setelah datangnya era reformasi di Indonesia, film ini akhirnya dapat dilepaskan dari belenggu represif, walaupun para kritikus film Indonesia sangat menyayangkan keterlambatan film ini. Walau umumnya mendapat sambutan positif, film ini mendapat kritik yang bercampur antara masih relevan atau tidaknya dengan kehidupan dan situasi Indonesia setelah era reformasi.


Sinopsis
Film ini adalah sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang masa represif rezim Orde Baru Soeharto. Sebuah masa yang banyak diwarnai dengan korupsi, kolusi, nepotisme, dan banyaknya penangkapan, penculikan, bahkan pembunuhan para aktivis yang tidak memiliki ideologi yang sama dengan pemerintah penguasa saat itu. Termasuk dalam orang-orang tadi adalah W.S. Rendra, seorang penyair yang harus keluar-masuk penjara karena karya-karyanya dianggap menyindir dan mengkritisi pemerintah. Seniman dan penyanyi Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi yang sering menyuarakan keadaan sosial masyarakat Indonesia pada saat itu juga harus berhadapan dengan kemungkinan pencekalan oleh pemerintah penguasa. Suara kesaksian para seniman tersebut ditumpahkan dalam konser akbar mereka, sebuah pertunjukan seni "Kantata Takwa". 

Film dibuka dengan adegan W.S. Rendra yang bermimpi tentang orang-orang yang berlari dikejar sekelompok orang yang mengenakan masker gas, bersepatu militer, mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api laras panjang, seolah menggambarkan bagaimana represifnya situasi tersebut. "Aku mendengar suara..... Jerit makhluk terluka.... luka... luka.... Orang-orang harus dibangunkan... ", dilanjutkan alunan lagu "Kesaksian". Kemudian W.S. Rendra membacakan syair panjang yang berisi kritik tajam terhadap kondisi masyarakat dan pemerintahan. 

Adegan demi adegan kemudian dibentuk oleh dialog / monolog teater dan puisi yang disambung dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata Takwa dan Swami I dan dibalut dengan cuplikan-cuplikan konser akbar "Kantata Takwa" tahun 1991 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Latar berpindah dari sebuah pedesaan yang damai ke pantai berpasir dengan angin menderu yang mengibarkan jilbab dan selendang sekelompok wanita, mengisi atmosfer dengan nuansa religius, ke latar orang-orang teater yang menari dengan mengenakan topeng mengerikan, kemudian sebuah adegan dialog antara Iwan Fals dan Sawung Jabo yang duduk bersila membicarakan kehidupan.

Syair-syair W.S Rendra dan lagu-lagu dari "Kantata Takwa" dan "Swami" menyertai adegan demi adegan dalam film ini, diselingi dengan munculnya seorang tokoh wanita yang mengenakan busana jilbab (Clara Sinta Rendra), yang selalu hadir menjadi saksi tanpa kata-kata. W.S. Rendra akhirnya diadili oleh hakim dengan banyak wajah bertopeng, dan film mencapai adegan klimaks dalam eksekusi personel "Kantata" satu persatu oleh pasukan bermasker, dimana Jockie Surjoprajogo tewas dipukuli di rumahnya, Setiawan Djodi tewas dibekap dengan bantal saat tidur, Sawung Jabo tewas ditembak di sebuah jalan buntu, dan Iwan Fals dieksekusi dengan dicabut giginya satu persatu. Film diakhiri dengan perlawanan orang-orang desa melawan pasukan bermasker, hancurnya pasukan bermasker, dan ditutup dengan alunan lagu "Kesaksian".


Penghargaan
1. Asia Pacific Screen Awards 2008 - Nominasi untuk FIlm Dokumenter Terbaik
2. Nominasi Dalam Hawaii International Film Festifal 2008
3. Nominasi dalam Osian Cine Fan, New Delhi 2008 



http://mbaktini.blogspot.com

Sutradara
Eros Djarot
Gotot Perkasa

Produser
Ekapraya Tata Cipta Film
Sedco Indonesia

Penulis
Eros Djarot
Gotot Perkasa

Pemeran
W.S. Rendra
Iwan Fals
Sawung Jabo
Setiawan Djodi
Jockie Surjoprajogo
Clara Sinta Rendra
Bengkel Teater Rendra

Musik
Kantata Takwa

Durasi
72 menit

Poster film Kantata Takwa, dirilis tahun 2008 oleh Ekapraya Tata Cipta Film dan SEDCO Indonesia.

**

    Alhamdulillah, penulis sudah mempunyai film Kantata Takwa meskipun bukan versi asli.



sumber : http://id.wikipedia.org



Salam OI



0 komentar:

Post a comment

Blog ini - 1000% tidak ada hubungan apa-apa dengan pihak manapun.
Silahkan memberikan komentar dengan bijak.
Komentar yang mengandung RASISME/SARA akan Admin hapus tanpa persetujuan lebih dulu.
Mari kita jaga solidaritas dengan sesama fals mania.

Salam OI

 
Back to top!